In personal life

Cerita Pak Tua, Si Anak Kecil dan Keledai

Masih ada benang merah dari artikel sebelumnya, ini adalah sebuah cerita. Bukan cerita baru sih, malam itu aku denger cerita ini dari suami, tapi pas googling juga ternyata cerita ini cukup popular. Buat yang belum pernah tau cerita ini, manga boleh dibaca:
____

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang Pak tua bersama putranya di sebuah desa. Desa itu sudah lama kekeringan dan menjadi tandus, sehingga banyak dari penduduk desa yang pindah. Kehidupan mereka sangat miskin, hanya sebuah gubuk reot dan seekor keledai lah harta yang mereka miliki. Setiap hari mereka hanya mengandalkan keledai yang mereka miliki untuk bekerja. Sehingga suatu hari, diputuskanlah mereka akan pergi ke pekan raya di kota untuk menjual keledainya.

Seorang perempuan melihat mereka dan tertawa, “Kalian berjalan membawa keledai. mengapa kalian tak menungganginya? Kalian berdua benar-benar bodoh!” “Perempuan itu benar,” kata Pak tua kepada putranya, “Kita berdua sungguh bodoh.” Maka orang tua itu naik ke punggung keledai, dan anaknya berjalan mengikuti di belakangnya.

Tak berapa jauh beranjak, mereka berjumpa seorang perempuan tua. Begitu ia melihat orangtua itu menunggang keledai ia berseru kepadanya, “Hey, ini tidak benar. Kamu menunggang keledai dan membiarkan bocah kecil itu berjalan kaki di belakangmu.” “Benar juga. ada benarnya perkataan perempuan tua itu.” Tukas si Tua dan iapun segera melompat turun dari punggung si keledai lalu membiarkan putranya naik. “Nak, kamu saja yang naik keledainya, biar ayah yang jalan kaki sambil menuntun.”
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga mereka melihat seorang lelaki sedang bekerja di ladang yang berteriak: “oi oi, kau, anak muda berpikiran pendek anak semuda engkau menunggang keledai dengan enaknya dan membiarkan orang tua ini berjalan kaki.” “Ah, Tepat juga perkataannya,” ujar si kecil yang merasa malu kepada dirinya sendiri, “Aku betul-betul berpikiran pendek.” Segeralah ia melompat turun dari punggung keledai.
Si orangtua dan anaknya itu segera berdiskusi tentang bagaimana caranya membawa keledai mereka ke pekan raya di kota tanpa ada lagi orang yang mengkritik mereka. “Aku punya ide,” kata si Kecil, “kita berdua menunggang keledai itu, dengan demikian tak ada orang yang dapat berkata apapun.” “Ide yang bagus,” ucap ayahnya setuju, “Sungguh ide yang bagus. “Segera mereka berdua menunggangi keledai itu. “Apa! Kalian gila?” dua orang pejalan kaki berseru marah, “Lihat itu, dengan dua orang berada di atas punggungnya, tak lama lagi keledai itu akan mati kecapaian.” ”Masa keledai sekecil itu ditumpangi berdua. Orang macam apa mereka??”
Ketika si Tua dan anaknya mendengar seruan itu mereka merasa bersalah. Langsung saja mereka melompat dari atas keledai dan berkata, “Benar juga, kita berdua memang gila.” Kali ini mereka benar-benar kehilangan akal dan tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba si anak berkata, “Aku punya ide! Bagaimana kalau kita yang memanggul keledai itu.” Pak Tua tersenyum mendengar nya dan berkata, “Ide yang bagus, Ide yang bagus.” Si Tua dan si Kecil segera memanggul keledai mereka dengan sebilah bambu dan membawanya ke pekan raya. Dalam perjalanan menuju pekan raya tubuh mereka berdua basah kuyup oleh keringat. Ketika sekelompok anak-anak melihat bagaimana kedua ayah anak membawa keledai itu, mereka semua tertawa terbahak-bahak. “Ha, Ha…., cepat sini lihat ini, dua orang ini tidak menunggangi keledainya, tapi justru keledainya yang menunggangi mereka. Itu benar-benar luar biasa. Ha, ha, ha…
______
Kalo cerita ini dipopulerkan sekarang mungkin judulnya bisa ditambah Pak Tua, Anak, Keledai dan Netizen ya hahahahaha… Hidup tidaklah mudah, apalagi ketika kita hidup memang tidak bisa sendiri, tinggal pun kita dikelilingi banyak orang. Omongan orang lain sering kali terasa membingungkan kita dalam mengambil keputusan. Kapan pun, dimanapun akan selalu ada orang yang menghakimi. Jika kita sudah mengambil keputusan yang kita rasa tepat dan terbaik, maka lakukanlah dengan kemantapan hati, karena kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Wahana yanag menyenangkan saja bisa bikin orang marah ketika ngantrinya Panjang bukan? Hehe. Jadi, tenang aja… tetap fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan.
Bukan berarti kita juga bukan orang yang terbuka lho ya, karena kita tetap butuh masukan untuk tindakan yang lebih baik. Lets make a better environment for ourselves and others.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In personal life

How To Deal With Judgement

Ketika mendapat izin dari suami untuk melakukan hal yang kita senangi, rasanya tuh bukan saja  menyenangkan tapi juga melegakan. Kemaren aku baru dari Jogja selama beberapa hari untuk sebuah event plus ngobatin kangen sama kuliner Jogja. Walaupun cuma sebentar tapi cukup, karena kalo kelamaan juga pasti aku ga kuat sih karena kangen sama anak-anak.

Sampai di rumah, kembali manjalani aktivitas seperti biasa. Minggu ini akan menjadi minggu yang panjang karena berbagai pekerjaan sudah menanti. Gakpapa, harus disyukuri.

Oiya, semalem seperti biasa aku ngelonin anak-anak, Lenon tidur di tempat tidurku karena dia demam, liat kakaknya bobo sama ibuk ya pasti Jaggira juga ikut bobo sama ibuk, jadilah kami tidur berempat empet-empetan hehe. Anak-anak tidur pulas, aku dan suami masih bangun dan aku membuka obrolan ringan. Aku tanya “Pak, kenapa orang being so judgemental? Kenapa ketika dia lagi sendirian orang bisa sangat baik dan ketika masuk dalam kelompok, individu ini cenderung jadi pribadi yang tidak menyenangkan?”
Lha, ini obrolan tadinya mau ringan kok jadi berat ya.

Pernah nggak sih dikritik orang karena terlalu sombong, judes, perfectionist, sensitive? Pernah banget. Sayangnya yang aku alami wujudnya bukan kritik atau saran tapi gossip hehe.
Ahhh digosipin mah biasa ya? Yakin biasa? Mungkin kejadian seperti ini gak hanya nimpa aku, di luar sana pasti banyak. Kira-kira orang yang digosipin akan merasa sakit hati gak?
Ketika kita bisa sampai menyakiti orang, apakah itu hal biasa?
Haduh, rasanya society is so harsh! Kenapa sih kita cepat dihakimi dan sering menghakimi orang?  

Coba kita bahas dulu kenapa kita punya judgemental attitude. (Source: Gogirl.id)

  1. Stereotip
Pandangan orang di sekitar kita akan sesuatu hal, budaya dan nilai-nilai yang kita anut bisa membuat kita cepat berprasangka terhadap seseorang dan menghakimi mereka. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang.

2.    We judge things we don’t understand or know. 
Contoh, mungkin kita dibesarkan dalam budaya mengenal profesi seseorang ya sebatas sebagai pengusaha, dokter, dosen, pegawai bank dll. Begitu melihat pasangan yang suaminya katakanlah anak band langsung keluar komentar “Kok mau sih sama anak band, atau kok udah punya 2 anak masih saja main band” Ketika istrinya pergi jalan-jalan terucap komentar “Suaminya cuma anak band tapi istrinya jalan-jalan terus” hehehe… Ini cuma contoh ya gaes, jangan baper. Padahal realitanya kita tidak bisa hanya melihat dari kaca pembesar media social saja, bisa saja dibalik profesi sebenarnya mereka punya usaha lain, punya investasi, tabungan, yang sebenernya kita tidak tahu dan itu bukan urusan kita. Asalkan orang lain bahagia, kenapa kita harus menghakimi mereka karena kita tidak mengerti situasi atau cara pandang mereka yang berbeda?

3.    Menghakimi, dijadikan sarana untuk memenuhi hasrat dan kepuasan. 
Menurut Bapak, perilaku judgmental memang lebih sering terjadi ketika kita terlalu intens hidup berkelompok. Karena kelompok tersebut bisa dijadikan sarana untuk meluapkan hasrat dan kepuasan. Misal, di hubungan pertemanan. Satu sama lain akan berlomba untuk mempererat keakraban, ketika sudah berlebihan pasti akan ada dampak negative. Ketika ada kekecewaan pada hal yang sama maka mereka akan membentuk kelompok lain yang secara tidak langsung dijadikan sebagai sarana baru untuk memfasilitasi kekecewaannya tadi. Atau gampangnya begini, kita berkumpul, berkelompok karena kesamaan kita akan satu hal, yang jadi masalah adalah kalo kesamaanya misal: sama-sama gak suka sama satu hal/orang, kalo ketemuan ngomongin hal-hal yang gak disuka itu tadi. Jadi semuanya seakan-akan dicari informasinya, supaya kalo ngumpul jadi seru. Makin-makin deh, apa yang sebetulnya gak ada, jadi diada-adain supaya seru aja ngomonginnya. Yang keliatan sedikit di media sosial, misalnya, ditambah-tambahin sesuai dengan judgement kita sendiri, supaya makin seru dibahas.
Pembicaraan yang seharusnya untuk 2 orang juga seringkali keluar jalur jadi materi obrolan seru. Naudzubillah.

How to deal with judgement?
  1. Mengertilah bahwa semua orang memiliki cara pandang, nilai-nilai, lingkungan, dan cara didik yang berbeda, maka dari itulah mereka bisa memandang kita dengan beda atau menghakimi kita.

Walk a mile in my shoes, see what I see. Hear what I hear. Feel what I feel, then maybe you’ll understand why I do what I do, ‘till then don’t judge me.” Sonever assume anything. Be curious not judgmental, because judging a person does not define who they are. It defines who you are

2.             Embrace who we are
Makin kesini aku makin lebih bisa menerima diri aku sendiri. Semua sifat buruk dan baik yang aku punya. Aku nggak takut lagi orang memanfaatkan kekuranganku untuk menghakimi, karena aku tahu kalo aku bukan orang yang seburuk itu. Hal itu tidak akan membuatku membatasi diri untuk menyuarakan opini, untuk mengekspresikan diri, untuk mengejar dan melakukan hal-hal yang kita mau.

Karakter pribadi yang kuat dan baik, tidak akan mudah terbawa arus kelompoknya. Saat sendiri ataupun berkelompok, orang ini pasti tetap akan menjadi individu yang membawa kebaikan.

3.             Leave the situation
Kalo kita udah mencoba menjadi baik tapi masih juga menerima destructive judgement, cara yang terbaik adalah leave the situation and create limits in your relationship with that person.
Kehidupan sosial yang sehat bukan semata soal jumlah teman yang kita punya, bukan sekedar betapa kerennya geng yang kita punya, melainkan kita cukup perlu dikelilingi oleh orang yang penuh kasih, positif dan peduli tentang kebaikan kita.


Kita tahu, tidak ada satu orang pun yang ingin dipermalukan atau dihakimi, terutama untuk suatu hal yang tidak pernah mereka lakukan. Orang normal tidak akan bertahan berada di suatu komunitas yang berisikan orang yang berperilaku tidak memanusiakan manusia. Sayangnya dalam hidup, akan ada orang yang selalu menghakimi kita dengan buruk, kemanapun kita pergi. Maybe someday there will come a time when judgement no longer exists.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In family healthy life

Formula Asam Amino Untuk Mengatasi Anak Yang Alergi Susu Sapi



Walaupun anak-anak udah gak ada yang bayi lagi, sampai sekarang aku masih lho ngikutin berbagai akun tentang kehamilan dan pola asuh anak di media sosial. Kadang-kadang suka kebawa rasanya pengen hamil lagi hehehe.

Menurutku, masa mengurus baby dan toodler itu memang termasuk masa yang sulit, tapi ketika anak-anak udah mulai besar seperti sekarang, mengenang moment 2 tahun ke belakang rasanya indah. Dulu aku paling suka browsing dan gabung di forum yang banyak membahas tentang pola asuh anak, ASI dan makanan tambahannya. Maklum, dulu aku punya masalah denga ASI yang hanya sedikit dan ketika masuk waktunya MPASI jujur aku bingung sih, karena gak bisa masak. Tappi beruntung banget, lewat bantuan teman-teman dari media social dan informasi yang aku dapet dari banyak sumber, aku bisa melewati masa itu dengan baik.

Sekarang Lenonina sudah berumur 5 tahun dan Jaggira 3 tahun. Walaupun sudah bisa makan makanan seperti orang dewasa, aku masih sering memasak makanan khusus untuk mereka agar kebutuhan nutrisinya lebih terkontrol. Sampai saat ini pun, mereka juga masih minum susu. 

Ngobrolin soal susu, aku bersyukur anak-anakku tidak punya masalah dengan konsumsi susu. Setelah 1 tahun ASI ekslusif aku memberikan mereka susu formula sebagai tambahan. Sampai saat ini tidak ada keluhan apapun. Mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.

Berbeda dengan yang dialami sahabatku Ajeng. Aku inget banget masa sulit saat dia lewati ketika hamil dan masa sulitnya menyusui untuk anaknya Lemoni. Awas jangan salah baca ya buibu, nama anakku dan anaknya Ajeng emang mirip, Lemon dan Lenon. 

Pengalamanku yang menyenangkan dalam memberikan susu tambahan untuk anak tidak dialami oleh temanku ini karena anaknya ternyata alergi susu sapi. Kok bisa? Awalnya aku juga gak abis pikir kok bisa anak alergi susu sapi, ternyata memang betul karena setiap Lemon diberi susu sapi alerginya langsung bereaksi seperti ruam kulit, kolik dan diare. Kasian deh dengernya.

Setelah konsultasi ke dokter, disarankan untuk tidak memberikan sembarang susu formula. Selain menyarankan untuk bertahan hingga selesai masa ASI eksklusif, apabila ingin memberikan susu tambahan, dokter menyarankan untuk mengganti susu ke susu formula yang tidak memicu reaksi alergi, sekaligus memenuhi nutrisi harian anak, formula ini adalah formula Asam Amino.

Apa sih Formula Asam Amino itu? Anak yang alergi protein susu sapi sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap satu atau lebih protein yang terkandung dalam susu sapi, sehingga ia tidak dapat mencerna protein utuh dalam susu sapi. Nah, pada formula asam amino, protein utuh ini sudah dipecah/diurai menjadi bentuk yang paling sederhana (yaitu asam amino) sehingga mudah dicerna dan tidak menimbulkan reaksi alergi.

Mengapa harus formula asam amino? Karena telah terbukti paling aman untuk bayi yang alergi protein susu sapi. Penelitian juga menemukan bahwa bayi dengan alergi protein susu sapi, gejala alerginya akan berkurang dan berat badannya akan bertambah jika diberikan formula asam amino. 

Nah, siapa yang masih maksain anaknya minum susu formula biasa sedangkan sudah mulai ada tanda reaksi alergi? Buat memastikan, ibu-ibu bisa cek alergi di link ini yaa…



Untuk susu dengan kandungan asam amino ini, banyak dokter di Indonesia merekomendasikan susu Neocate. Neocate Advance sebagai pelengkap rangkaian allergy careadalah nutrisi asam amino non alergenik yang bebas protein susu sapi, sehingga aman diberikan untuk anak yang masih mengalami alergi susu sapi. Diindikasikan juga untuk anak dengan berbagai alergi protein makanan (multiple food allergy) serta kondisi klinis lain yang memerlukan nutrisi asam amino sebagai asupan.

Dilengkapi dengan energi 1 kcal/ml dan kandungan MCT yang tinggi (35%) untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tumbuh kejar 4 pertumbuhan pada anak yang mengalami alergi, dan sesuai kebutuhan anak usia 1-12 tahun.

Browsing di internet sih di Indonesia ada 3 jenis, yaitu :
1.    Necocate LCP untuk 0-12 bulan.
2.    Neocate Spoon untuk 6 bulan keatas. Neocate spoon ini bukan susu tapi MPASI gitu, bentuknya seperti bubur.
3.    Neocate Advanced untuk 1-12 tahun.

Neocate ini bisa dibeli dimana? Banyak kok, bisa di apotek atau kalo yang suka beli online bisa juga memalui e-commerce kesayangan. Oiya, untuk menambah informasi seputar Allergy Care kita juga bisa bergabung di nutriclub.co.id. 

Tuh jadi panjang deh bahas alergi. Tapi gapapa ya, mudah-mudahan informasi ini berguna untuk ibu-ibu yang sedang bingung cari alternative susu untuk anaknya yang mengalami alergi. Semoga membantu ya bu J


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In family

Investasi Berbasis Syariah yang Aman Untuk Keluarga

Tanpa disadari, lahan profesi baru seperti; social media marketing, content creator, key opinion leader, influencer, selebgram, blogger, ternyata cukup menjanjikan dan bisa dijadikan kesempatan sebagai satu cara untuk menambah pendapatan suatu keluarga. Aku ambil contoh dari rumah tangga aku sendiri. Semenjak pindah rumah, seperti yang pernah aku bahas di artikel sebelumnya, bahwa membangun rumah tangga mandiri itu tidak gampang. Butuh kerjasama yang kuat antara suami dan istri. Jujur, dari sisi finansial kami berjuang keras untuk memenuhi semua kebutuhan. Tidak pernah ada dalam rencanaku kalau ternyata aku bisa menghasilkan uang dari media social, dan blog. Jumlahnya tidak terlalu besar dibandingkan influencer atau selebgram besar di luar sana, tapi jumlah ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sekunder keluargaku. Sampai aku menyadari bahwasannya, aku tidak tahu sampai kapan profesi ini akan bertahan. Masih adakah perusahaan yang membutuhkan jasa blogger 3 atau 5 tahun kedepan? Dari pemikiran ini suami tidak bosan-bosan mengingatkan aku untuk nabung, nabung dan nabung untuk bekal masa depan.

Hingga saat ini aku masih suka menyisihkan sebagian uang dari penghasilan untuk ditabung di bank. Itu benar, terlebih lagi bank juga memberikan bunga beberapa persen yang dapat menambah jumlah uang kita dalam tabungan.
Namun, tahukah kamu, bahwa nilai uang saat ini dan di masa yang akan datang akan berbeda, dan cenderung akan berkurang. Hal ini merupakan teori dari time value of money­, yang artinya nilai uang (rupiah) pada saat ini akan lebih berharga dari pada nilai uang di masa yang akan datang. Contohnya, jika saat ini kita menabung sebesar Rp 1 juta dan dapat membeli 10 potong baju, mungkin dalam kurun waktu sepuluh tahun dari sekarang, dengan uang uang yang sama hanya dapat membeli baju sebanyak 7 potong.
Pada umumnya, orang-orang tidak menyadari adanya perubahan nilai uang seperti itu. Sebabnya adalah peningkatan harga untuk barang yang sama umumnya meningkat secara sedikit demi sedikit, sehingga kita tidak merasakan adanya perbedaan yang nyata antara harga barang saat zaman dulu dan sekarang. Adanya peningkatan harga-harga ini juga disebabkan oleh adanya inflasi.

Nah, bagaimana cara melawan inflasi ini? Caranya adalah dengan berinvestasi. Kata investasi bagi orang awam seperti aku konotasinya cenderung negatif ya, takut perusahaannya bangkrut, korup atau memang investasi bodong aja gitu seperti yang banyak kita baca atau dengar di berbagai media.

Beberapa bulan terakhir aku dan suami rajin menggali informasi mengenai investasi yang sehat dan sesuai syariat agama. Akhirnya kami menemukan investasi yanag cocok untuk keluarga kami yaitu Sukuk Tabungan seri ST-002. Sukuk Tabungan adalah salah satu Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai instrumen investasi berbasis syariah yang diterbitkan oleh Pemerintah melalui Kemenkeu RI, ditujukan bagi investor individu Warga Negara Indonesia (WNI) dan merupakan instrumen syariah Pemerintah pertama yang dijual dengan mekanisme online. Berdasarkan prinsip syariah, investasi masyarakat melalui Sukuk Tabungan seri ST-002 akan dialokasikan untuk memberdayakan perekonomian syariah serta mendukung pembangunan nasional.

Kami sangat antusias dengan masa penawaran Sukuk Tabungan seri ST-002 yang merupakan instrument investasi berbasis syariah online pertama yang diterbitkan oleh Pemerintah melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia (@kemenkeuri). Tahun ini, investasi masyarakat melalui ST-002 akan dialokasikan untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional yang menjadi investasi untuk merekat jalinan kebangsaan menuju bangsa yang mandiri. Selain itu, ST-002 juga mengajak para investor untuk #JadiLebihBijak mengelola keuangan dengan berinvestasi secara/dengan mekanisme syariah. 
Karakteristiknya sebagai berikut:
  • Untuk individu Warga Negara Indonesia (WNI).
  • Pengelolaan investasi dengan prinsip syariah.
  • Pemesanan mulai dari Rp 1 juta, siapa pun bisa berinvestasi.
  • Tingkat imbalan 8,30% p.a. mengambang dengan imbalan minimal.
  • Tenor 2 tahun.
  • Ada fasilitas early redemption (pencairan sebelum jatuh tempo).
  • Tidak dapat diperdagangkan/dialihkan.
Keuntungannya: 
  • Pokok dan imbalan dijamin oleh negara.
  • Tingkat imbalan 8,30% p.a., lebih tinggi dari rata-rata tingkat deposito bank BUMN.
  • Imbalan mengambang mengikuti BI 7-Day Reverse Repo Rate dengan jaminan imbalan minimal (floor).
  • Imbalan dibayar tiap bulan.
  • Early redemption tanpa dikenakan redemption cost oleh pemerintah.
  • Kemudahan akses transaksi melalui Sistem Elektronik (online) dari 11 Mitra Distribusi Penjualan, investor bisa memilih sesuai preferensi. 11 MiDis tersebut adalah: Investree, Bareksa, tanamduit, Permata Bank, Trimegah, BNI, Bank BTN, Bank Mandiri, BCA, BRI, dan Modalku.
  • Mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
  • Akses investasi sesuai prinsip syariah.

Dengan adanya 11 Mitra Distribusi Penjualan, kita bisa berinvestasi ST-002 sesuai preferensi yang kita punya, apakah lewat bank umum, perusahaan efek, perusahaan efek khusus, maupun perusahaan financial technology (fintech).

Jadi ibu-ibu, yuk kita diskusi dengan suami dan ajak raih manfaat mudah berinvestasi dengan berinvestasi Sukuk Tabungan seri ST-002 karena aman, terjangkau, 100% online, dan sesuai prinsip syariah. Untuk informasi lebih lanjut, teman-teman dapat mengunjungi https://www.kemenkeu.go.id/sukuktabungan.










Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In family thought

Enam Tahun Menikah




Dari 12 bulan dari setiap tahun, bulan Oktober adalah favoritku. Bukan berarti bulan lain gak suka ya, tapi karena banyak tanggal-tanggal special di bulan Oktober seperti, ulang tahun anak-anak dan hari jadi pernikahan, makanya Oktober jadi bulan favorit di antara bulan yang lain. Bulan Oktober tahun ini, usia pernikahan aku dan Tria tepat menginjak 6 tahun. Usia yang masih piyik dibanding usia pernikahan Kang Arman Maulana dan Teh Dewi Gita, misalnya, yang sudah 25 tahun. Subhanallah ya mereka.

Selama 6 tahun menikah cukup banyak ujian yang kami lalui, dari mulai awalnya ngontrak apartemen sepetak, tinggal rame-rame bareng 3 kepala rumah tangga di satu rumah, numpang tinggal dengan mertua hingga Alhamdulillah sekarang bisa tinggal di rumah sendiri.

Walaupun ternyata gak gampang ya punya rumah sendiri. Kami harus lebih berhemat karena biaya kebutuhan rumah yang tidak sedikit. Terlebih anak-anak sudah semakin besar, kami harus menyiapkan tabungan pendidikan untuk mereka.
Wah, bakalan jadi artikel keuangan nih. Hehe enggak kok, ini cuma salah satu contoh saja bahwa kehidupan keluarga itu gak seindah yang ditampilkan di Instagram. Aku yakin masing-masing keluarga pasti punya masalah, struggling, up and down, maju mundur, dan semua itu gak bisa kita simpulkan hanya dari kaca pembesar media social aja.


“Teh, suka berantem gak sama kang Tria?” ini pertanyaan yang sering banget ditanya temen-temen di Instagram. Berantem ya tentu aja pernah, tapi menurut aku frekuensinya masih bisa dibilang jarang.

Tapi akhir-akhir ini nih ya, rasanya kok aku lagi sangat sensitif dengan hubungan kami. Mungkin karena capek juga, karena udah beberapa bulan ini kami memutuskan untuk tidak pake bantuan pengasuh anak lagi. Otomatis aku lebih sering manghabiskan waktu di rumah, capek, kadang ngerasa sumpek, tapi di sisi lain aku merasa Tria terlalu sibuk. Kalo pulang pasti capek, kami jarang ngobrol, kalopun ngobrol ya pasti yang dibahas anak-anak. Sadar atau tidak, hal-hal kecil kayak gini kalo dibiarin aja ya bisa jadi bom waktu. Kurang komunikasi yang lama-lama bisa memicu pertengkaran. Kasih sayang pun bisa hilang. Nauzubillah.

Beberapa waktu lalu, aku lagi capek dan marah, rasanya semua salah, maunya tuh diem aja, ngobrol males apalagi nyelesein masalah. Padahal dalam hati sebenernya aku sadar kalo diam itu bukan solusi, mau diam sampe kapan toh pada dasarnya kami ini punya cita-cita untuk bisa bersama sampai tua, ngapain ngabisin energi dengan diam dan memendam amarah. Tapi ya gitu deh, aku gengsi buat ngobrol duluan, sebaliknya sebagaimana laki-laki, kalo istrinya marah yaudah didiemin aja. Mungkin maksudnya baik sih, membiarkan istrinya ngadem dulu supaya gak emosi. Tapi kadang suka kebabalasan jadi diem-dieman lama huhuhu.

Memang jalan Allah itu selalu saja ada, saat itu juga, aku ditunjukkan banyak cerita tentang pernikahan dan masalah yang dihadapi. Rata-rata masalahnya sama: komunikasi. Nah kalo udah tau masalahnya komunikasi tapi gak diselesaikan dengan berkomunikasi ya gak akan selesai kan? Apalagi kalo terus malah mencari pelarian, ya sudah pasti masalah gak akan selesai dan kerukunan rumah tangga jadi terancam. Aku gak ingin ini menimpa rumah tangga kami. Sama sekali tidak. Malam itu juga kami duduk bersama membicarakan keluh kesah satu sama lain dan minta maaf. Emang bener kata orang, rumah tangga itu harus sering-sering fitting ulang, kalo gak ya gak fit.

Di penghujung bulan, bertepatan dengan ulang tahun Jaggira, kami mengundang keluarga dan mendatangkan ustadz untuk kajian di rumah, niatnya biar rumah dan seisinya berkah sekaligus kita bisa sambil belajar. Sengaja aku meminta ustadz hari itu untuk menyampaikan topik tentang rumah tangga.

Sebelumnya aku minta maaf ya kalo kesannya artikel ini kok jadi “ke mamah dedeh an” hahaha, gak ada maksud menggurui sama sekali, ini sebenernya pengingat dan pembelajaran buat aku pribadi tapi aku bagi di sini siapa tau juga bisa mendatangkan manfaat.

Agak nyesel sih aku gak sempet nyatet semua apa yang disampaikan ustadz kemaren. Beberapa hal yang beliau sampaikan yang masih aku ingat diantaranya adalah:

1.     Mengingatkan bahwa baik sebelum menikah maupun sesudah menikah, perintah Allah itu sama yaitu agar supaya kita bertaqwa. Ciri-cirinya taqwa ini ada di QS 3:133,134.
2.     Sayangilah keluarga sebagai wujud dari keimanan kita, karena kalo bukan karena alasan tersebut kasih sayang bisa luntur kapanpun kita mau. Jadi cek kembali, alasan kita memilih pasangan, kalo sekedar karena fisik, harta, profesi, sudah saatnya diluruskan niatnya sebelum terlambat.
3.     Jangan berhenti belajar. Karena dengan belajar kita bisa menggunakan akal untuk lebih membukakan hati kita. Dengan akal pikiran yang luas sudah pasti hati akan terbuka sehingga bisa menerima kesabaran, keihklasan dan segala kebaikan lainnya.
4.    Dirikanlah sholat, sholat bukan hanya sebagai penggugur kewajiban, melainkan agar kita terhindar dari "menuhankan" hawa nafsu. Ingatlah Allah setiap saat.
5.    Tanamkan rasa kasih sayang dalam keluarga dan jangan ragu untuk saling memaafkan karena Allah pun Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Huff, jleb gak sih? Sedih akutuh hehe. Yuk ah sama-sama belajar, jadi istri dan ibu ternyata gak gampang ya, tapi selama kita mau belajar insyaAllah dimudahkan jalannya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments